Hari Tari Sedunia 2022: Penari Lampung Ini Bisa Jadi Salah Satu Inspirasi

Diumur yang nasih muda, Widyawati Retna Ningrum, menciptakan beberapa karya tarian tradisional.

Penari Muda Berbakat Lampung, Widyawati Retna Ningrum.
Penari Muda Berbakat Lampung, Widyawati Retna Ningrum. Instagram/@widya_rn

KE LAMPUNG – Tepat hari ini pada 29 April 2022 merupakan peringatan Hari Tari Sedunia. Tentu, peringatan ini untuk memperingati seni tari.

Di Provinsi Lampung banyak sekali jenis seni tari yang masih dilestarikan. Salah satunya adalah tari sembah yang selalu hadir pada setiap acara formal.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa seni tari tradisional begitu melekat dengan unsur keklasikannya. Namun untuk dapat menguasai tarian tradisional bukan berarti membuat penari tampak kuno ataupun jadul.

Salah satunya Widyawati Retna Ningrum, ia mampu tampil keren dan memukau dengan tarian-tarian tradisionalnya.

Bakat penari memang telah melekat pada Muli asal Way Jepara Lampung Timur tersebut. Bahkan, bakat itu telah terlihat sejak dirinya berumur 3 tahun. Kemudian pada 2016, dirinya mulai memberanikan diri untuk nyemplung ke dunia tari.

Awalnya, putri yang berumur 22 tahun ini tidak pernah berpikir bahwa hobi yang digelutinya dapat menghasilkan. Sebab dirinya sedari awal melakoni hobinya dengan tulus berkarya dari hati.

Berawal dari mengikuti seleksi tari berpasangan untuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), yang mampu mengantarkannya sukses menjadi penari profesional. Bermula dari mewakili kabupatennya di ajang tingkat provinsi, hingga pada akhirnya telah dipercaya untuk mengadu kebolehan di kancah nasional.

“Semenjak saat itu saya selalu mewakili kabupaten saya di tingkat provinsi. Kemudian setelah karir saya di provinsi semakin dikenal banyak orang, saya mewakili Lampung di ajang Nasional,” tuturnya.

Hingga saat ini, sedikitnya Widyawati telah banyak mengukir sejumlah prestasi, yakni:

1. Delegasi Lampung Kirab Agung Suro 2015
2. Juara 1 FLS2N Tari Berpasangan Provinsi Lampung Tahun 2016
3. Juara Harapan 2 Liga Tari 2016
4. Awarde Beasiswa Unggulan 2018
5. Muli Lampung Timur 2018
6. Duta Pemuda Indonesia 2019
7. Duta Wisata Lampung 2019
8. 3rd RU Puteri Tari Indonesia 2019
9. Jakarta Internasional Folklore Festival 2019
10. Delegasi Lampung Parade Busana 2019

Tidak puas dengan itu, Widyawati juga mulai memberanikan diri untuk menciptakan sebuah karya seni tarinya sendiri. Setidaknya, dalam kurun waktu 4 tahun berkiprah di dunia tari, Widyawati telah menciptakan sebanyak 4 tarian.

Pertama ia menciptakan Kolaris, sebuah tari kontemporer. Kemudian disusul dengan tari kreasi Lampung Cangkebo. Ketiga tari Renggus dan keempat Khang Khinggon.

Widya, memang sangat suka dengan tarian tradisional. Karena menurutnya, sebuah bangsa yang maju adalah bangsa yang mencintai kebudayaannya sendiri.

“Sebagai generasi muda saya merasa memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan aset bangsa, yakni melalui dunia tari tradisional,” kata Widya.

Ia pun mengatakan bahwa generasi muda memiliki ‘PR’ bagaimana dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaannya sendiri. Dan kebudayaan yang sangat unik dan beragam menjadi alasan sosok Widyawati untuk tetap bertahan di dunia tari.

“Mimpi saya yang dari dulu hingga saat ini sedang dalam proses mewujudkannya adalah saya bisa membawa nama indonesia di kancah internasional. Karena beberapa kali saya sempat hampir mewakili indonesia ke beberapa negara namun masih ada kendala,” harapnya.

Dari kecintaannya pada budaya lokal, Widya juga turut aktif membangun sanggar dan Komunitas. Dirinya kini juga sibuk melestarikan budaya dengan membangun komunitas tari bernama “Putri Bulan” dan sanggar di Lampung Barat, tepatnya di Tambak Jaya bernama “Sanggar Widya Laksmana”.

“Mengingat daerah tersebut sangat membutuhkan sanggar sebagai wadah generasi muda di dunia kesenian jadi saya berinisiatif mendirikan sanggar tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, Widya juga bergabung ke dalam Sanggar Gardancestory dan Balo-balo Art Dance, dan bersama rekan-rekannya menjadi pengurus Platform bagi duta tari bernama “Putra Putri Tari Lampung”.

Lantas, bagaimana aktivitas pelaku seni ini di masa pandemi? Biasanya, Widya dibanjiri job freelance tari, baik di sanggar tari maupun resepsi pernikahan. Tak jarang pula ia pentas ke luar kota, sebagai koreografer juga.

“Awalnya saya juga merasa stres juga, ya. Tidak menutup kemungkinan, yang tadinya jadwal latihan sangat padat sekali, bahkan sehari hanya tidur 3 sampai 4 jam saja. Karena pandemi malah di rumah aja,” ungkapnya.

Namun menurut Widya, di masa inilah perannya bersama rekan-rekan dibutuhkan. Bagaimana pelaku seni tetap dapat menghibur dan menginspirasi masyarakat untuk dapat bangkit dan terus berinovasi dalam situasi apapun.

“Akhirnya komunitas kami Balo-balo Art Dance merayakan hari tari dunia secara online. Saya juga tetap berkarya dan menciptakan tari di masa pandemi ini, dan dilombakan secara online juga,” jelasnya.

Selama di rumah saja, Widya mampu menghasilkan 3 karya yang diperlombakan dan menoreh juara 2 se-Sumbagsel dan se-Provinsi Lampung.

“Kemudian saya juga buat konten menari yang saya share lewat Instagram. Harapan saya sih supaya dapat berbagi kebahagian,” tutupnya.***

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.