Berita  

Ketahui Bagaimana Ilmu Sosial dapat Membantu Pelestarian Gajah di Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas Lampung
Taman Nasional Way Kambas jadi salah satu rekomendasi ketika berkunjung ke Lampung. Foto: @chicco.jerikho on Instagram

KE LAMPUNG – Gajah merupakan salah satu binatang yang menjadi ikon bagi Provinsi Lampung. Pelestarian gajah di Lampung sendiri berada di Taman Nasional Way Kambas.

Selain Taman Nasional Way Kambas, gajah secara liar masih dapat ditemukan di Taman Nasional Bukit Barisan Bagian Selatan, yang lebih dominan ditemukan di bagian kabupaten Tanggamus, Lampung.

Di Indonesia, populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) per 2017 tercatat sebanyak 1.694-2.038 ekor. Angka tersebut turun 21.2% atau terjadi kehilangan sekitar 700 ekor gajah dibandingkan 10 tahun lalu. Tren penurunan ini dapat berlanjut jika tidak ada tindakan drastis untuk menyelamatkan populasi gajah.

Upaya pelestarian dapat dimulai dengan memahami hubungan antara manusia dan gajah, khususnya pada masyarakat yang hidup bersama dan mengalami interaksi negatif (berkonflik) dengan gajah.

Interaksi tersebut muncul ketika gajah mendatangkan kerugian atau ancaman bagi kehidupan manusia yang dapat berdampak pada menurunnya toleransi hingga kematian sang satwa.

Perusakan tanaman merupakan tipe interaksi yang paling umum, yakni ketika gajah masuk ke ladang pertanian dan memakan serta merusak tanaman yang ditanam.

Interaksi ini kompleks karena tidak hanya berakibat pada kerusakan tanaman warga, tapi juga bisa menyebabkan konflik antarmanusia. Contohnya, masyarakat bersitegang meminta pengelola kawasan konservasi bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh gajah.

Rumitnya interaksi tersebut membuat dimensi manusia dalam hubungan dengan gajah penting untuk dikaji. Sejauh ini, kajian ilmiah mengenai interaksi negatif manusia-gajah masih berfokus pada aspek ekologis (pola sebaran dan waktu perusakan tanaman oleh gajah) dan aspek praktis (evaluasi efektivitas metode perlindungan tanaman dari gajah).

Padahal, aspek seperti sikap dan perilaku masyarakat untuk hidup bersama gajah–yang masih jarang dieksplorasi, juga penting untuk diteliti.
Sebab, perspektif sosial dari kajian dimensi manusia dapat melengkapi perspektif ekologis yang telah tersedia. Kedua pendekatan ini dapat menjadi bekal penyusunan strategi konservasi yang lebih efektif.

Hubungan manusia-gajah di Way Kambas

Penelitian terbaru kami yang diterbitkan di jurnal Conservation Science and Practice mengkaji persepsi psikologi masyarakat dari interaksi mereka dengan gajah di Way Kambas.

Dalam kajian ini, kami mencoba menjawab pertanyaan: Apakah sikap terhadap gajah dapat menjelaskan kesediaan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan gajah di Way Kambas?

Kami memilih masyarakat di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, karena empat alasan. Pertama, TNWK merupakan lanskap prioritas konservasi gajah sumatera. Pada 2019, menurut data TNWK sebanyak 10% populasi gajah sumatera atau sekitar 144-225 ekor tinggal di kawasan ini.

Kedua, intensitas perusakan tanaman oleh gajah merupakan salah satu yang tertinggi di Sumatera. Data dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) mencatat sekitar 150 kejadian perusakan setiap tahunnya sejak 2016.Hal tersebut berdampak pada masyarakat Way Kambas lantaran perekonomian mereka bergantung pada komoditas pertanian seperti padi, jagung, dan singkong.

Ketiga, masyarakat Way Kambas menjadi percontohan karena telah mengembangkan beragam metode perlindungan tanaman dari gajah. Bermacam cara perlindungan itu dilakukan karena gajah kerap memasuki lahan pertanian.

Alasan terakhir, masyarakat di Way Kambas tidak memiliki hubungan tradisi maupun historis yang dalam dengan gajah sumatera. Sebab, mayoritas penduduk sekitar TNWK merupakan masyarakat Jawa yang pindah ke Lampung sebagai bagian dari program transmigrasi.

Kami mewawancarai 660 responden dari 22 desa di sekitar TNWK. Ketika menanyakan mengenai lima dimensi sikap (“kepintaran”, “kegunaan”, “kepentingan”, “kesenangan”, dan “keamanan”), kami menemukan bahwa sebagian besar masyarakat menunjukkan sikap yang positif terhadap gajah.

Mayoritas responden mengatakan bahwa gajah merupakan satwa yang pintar (95%; contoh pernyataan responden: Mereka bisa belajar hal baru dengan cepat), berguna (62%; Wisata gajah memberikan pekerjaan bagi saya dan keluarga), penting (57%; Gajah merupakan satwa dilindungi), dan menyenangkan (53%, Saya senang melihat gajah, mereka lucu).

Namun, ketika ditanyakan mengenai “keamanan”, 55% responden menunjukkan sikap yang berbeda karena mereka percaya bahwa gajah merupakan satwa berbahaya (Gajah liar sangat berbahaya). Sekitar 30% dari responden melaporkan sikap netral terhadap gajah (tidak positif maupun negatif).

Meski secara umum sikap masyarakat positif, sebanyak 62% responden tidak bersedia hidup berdampingan dengan gajah (Contoh pernyataan: “Saya tidak mau gajah di sekitar desa kami” atau “Saya takut mereka di sekitar saya dan keluarga”). Hanya 22% responden yang bersedia (“Saya mendukung gajah di Way Kambas karena ini rumah mereka”), dan 17% netral.

Untuk menjawab temuan rendahnya kesediaan hidup bersama gajah, kami menganalisa korelasi untuk melihat apakah sikap terhadap gajah mampu menjelaskan kesediaan. Kami menemukan bahwa ternyata kesediaan seseorang untuk hidup berdampingan sangat dipengaruhi oleh sikap mereka terhadap aspek keamanan, kepentingan, dan kegunaan gajah. Kesediaan itu terkait dengan persepsi responden terkait keuntungan dan kerugian dari hidup bersama gajah.

Sebagai contoh, kesediaan hidup bersama akan menurun jika masyarakat percaya bahwa gajah merupakan satwa berbahaya (dapat melukai manusia). Tapi, kesediaan meningkat jika mereka meyakini gajah membawa manfaat (misalnya melalui pendapatan dari aktivitas pariwisata).

Dukungan muncul ketika ada persepsi mengenai aspek penting gajah, misalnya bahwa mereka merupakan satwa dilindungi.

Meski kajian ini melaporkan kesediaan yang rendah, kami menemukan bahwa masyarakat Way Kambas sebenarnya telah menunjukkan perilaku toleran terhadap gajah.

Hal ini dibuktikan dengan angka kematian gajah yang rendah akibat interaksi dengan manusia (tiga kasus; di luar perburuan) sejak tahun 2010. Kematian itupun terjadi karena kecelakaan. Seperti gajah terjebak di bekas lubang galian masyarakat yang ditinggalkan. Menurut data WCS-IP tidak ada ada laporan gajah yang mati diracun karena masuk ke lahan masyarakat.

Pertama, seluruh pemangku kebijakan dapat berupaya bersama melindungi tanaman masyarakat melalui aksi patroli warga dan pembangunan penghalang seperti tanggul maupun pagar kawat. Kedua langkah itu diharapkan dapat mengurangi dampak kerugian dari hidup bersama gajah.Dengan pengetahuan baru akan hubungan sikap dan kesediaan, riset kami merekomendasikan dua pendekatan praktis untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan yang baik antara manusia dan gajah di Way Kambas.

Kedua, melakukan kampanye penyadartahuan untuk meningkatkan kesadaran akan kegunaan dan kepentingan gajah. Dalam kampanye ini, peserta dapat ditunjukkan tips dan trik saat berhadapan dengan gajah liar sehingga mengurangi persepsi bahaya dari gajah.

Kedua pendekatan praktis ini perlu dilakukan dengan kerja sama antar pemangku kebijakan, terutama oleh masyarakat, pemerintah, dan praktisi serta peneliti konservasi.

Upaya mendorong koeksistensi pembuat kebijakan dan praktisi konservasi perlu memahami pikiran, perasaan, dan perilaku dari orang yang hidup bersama satwa liar. Karena itu, kajian sosial interaksi manusia-satwa liar perlu diarusutamakan untuk membantu kita memahami hubungan ini, terutama ketika tren interaksi negatif semakin meningkat.

Harapannya, kolaborasi lintas disiplin dapat memperkuat upaya konservasi yang tak hanya memperhatikan kesejahteraan satwa, tapi juga manusia.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

Ardiantiono, PhD Student, University of Kent

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.