SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Headline Opini
Beranda » Berita » Pemkot Bandar Lampung Transisi Hobi Bangun Flyover ke Tugu dan Gapura?

Pemkot Bandar Lampung Transisi Hobi Bangun Flyover ke Tugu dan Gapura?

Tugu Pagoda Bandar Lampung

KELAMPUNG.COM – Sebagai kota yang terus tumbuh dan berkembang, Pembangunan di Kota Bandar Lampung dari tahun ke tahun kian melejit. Tetapi berangkat dari niat baik ini tidak luput dari kritik.

Flyover Jalan Antasari-Pangeran Tirtayasa menjadi Fly Over yang pertama kali berdiri di Kota bertajuk Tapis Berseri. Lalu dilanjutkan sepuluh jembatan layang yang diresmikan selama satu dasawarsa, sepanjang kepemimpinan Wali Kota Bandar Lampung Herman HN.

Perjalanannya selalu banjir dukungan, namun lambat laun tuai kritikan. Sederet oposisi bertanya mengapa pemerintahan kala itu getol membangun Fly Over? Herman HN seringkali menjawab lunas dengan satu kalimat yang hampir banyak orang menghafalnya, “ini tidak lain untuk mengurai kemacetan.”

Sejatinya pembangunan di masa kepemimpinan Wali Kota Herman HN tidak serta merta Fly Over semata. Selain jembatan, Pemerintah Kota Bandar Lampung pada masa itu juga melakukan banyak pembangunan seperti Underpass Unila, Gedung dan Bangunan yang difungsikan sebagai Kantor Kelurahan dan Kecamatan, hingga sederet Fasilitas Kesehatan.

Pembangunan Gedung-gedung berwarna merah itu, ada yang berjudul pembangunan gedung baru dan ada pula yang berjudul renovasi untuk penyeragaman bangunan. Apapun kondisi proyeknya, gedung pemerintahan tampak serupa dengan dominan warna merah membara.

11 Destinasi Wisata Paling Menarik di Lampung, Dari Pantai hingga Pegunungan

Berakhirnya kepemimpinan Herman HN dengan julukan Bapak Pembangunan di Kota Bandar Lampung mendorong sang Istri Eva Dwiana maju pada kontestasi Pemilu. Tak lama berselang ia duduk di kursi dengan julukan orang nomor satu.

Eva Dwiana dalam beberapa wawancara dengan sejumlah media menyebut dirinya ingin melanjutkan pembangunan yang telah dilangsungkan oleh suaminya, Herman HN.

Setelah resmi menjabat, Eva menyatakan tidak akan membangun Fly Over di masa kepemimpinannya. Ia menegaskan akan fokus pada pembangunan trotoar dan mempercantik kota. Itu misi utamanya.

“Setiap Fly Over nantinya akan dipercantik dan masing-masing memiliki ornamen tersendiri,” kata Eva.

Memang terbukti, seluruh Fly Over yang telah beroperasi saat ini tampak diguyur cat warna-warni. Sesuai dengan misi. Jika sang suami menyibukan diri dengan membangun, sang istri memilih untuk “bersih-bersih”. Agar tempat rapih, nyaman, dan enak dipandang.

Transmigrasi Lampung: Dari Kolonisasi Belanda hingga Orde Lama

Tetapi sorotan aktivitas itu kian tenggelam, hingga Eva Dwiana lantas memiliki ide untuk mengembangkan pariwisata. Dari ide sederhana inilah sederet pembangunan dimulai. Namun ambisi untuk mengembangkan sektor tersebut justru membawa dirinya memanen kritik dari sejumlah pihak.

Saat banjir melanda, Pemerintah Kota Bandar Lampung tengah membangun sebuah jembatan layang. Bukan untuk kendaraan, jembatan dikhususkan bagi pejalan kaki. Jembatan ini menghubungkan Kantor Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al-Furqon.

Sontak, kritik keras seringkali dikumandangkan. Selain momen pembangunan yang tidak tepat, Pembangunan Jembatan yang diberi nama JPO Siger Milenial itu dianggap minim fungsi bagi masyarakat luas. Eva Dwiana menyebut pembangunan itu untuk menghidupkan sektor pariwisata dan UMKM di Kota Bandar Lampung.

Hanya saja, pembagunan yang menggocek anggaran besar itu dianggap tidak sepadan dengan kondisi yang kala itu sudah diperkirakan oleh banyak orang. Benar saja, intensitas warga yang bersantai di jembatan tersebut tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada yang membuat jembatan tersebut menjadi tujuan wisata kota yang istimewa.

Akan tetapi ambisi Eva Dwiana untuk menghidupkan sektor pariwisata ini masih berlanjut. Sederet pembangunan lain yang juga kontroversi jadi buah bibir oleh banyak pihak. Dimulai dari China Town.

Harga Emas di Bandar Lampung 9 November 2025, Naik Tipis!

Berniat membuat wilayah Teluk Betung menjadi China Town, Pemerintah Kota Bandar Lampung membangun Gapura bermotif naga dan Tugu Pagoda. Tapi pembangunan yang bermaksud untuk menjunjung tinggi keberagaman malah menjadi konflik etnis. Banyak masyarakat yang menganggap pembangunan China Town berlebihan dan justru terkesan mengistimewakan etnis Tionghoa.

Tak lama, sederet perubahan tampak terjadi sebagai bentuk respon Pemerintah Kota Bandar Lampung atas kritikan yang seringkali disebut. Gapura yang sebelumnya bertuliskan selamat datang dengan bahasa mandarin kini diganti dengan Aksara Lampung. Lalu kemudian tak jauh dari Tugu Pagoda tampak pembangunan Tugu Al-Quran kini tengah dibangun.

Sekilas, respon tersebut seolah seperti sedang berkilah. Namun di lain sisi, Eva Dwiana tampaknya berupaya menegaskan untuk menjunjung nilai “keberagaman” sesuai dengan niat konsep awal pembangunan. Meskipun pada akhirnya, proyek pembangunan-pembangunan tersebut justru dianggap boros anggaran.

Tak sampai di situ, tersorot pembangunan Gapura di wilayah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Anggarannya, disebut mencapai Rp10 miliar. Kendati demikian, pembangunan yang hanya berfungsi serta merta memperindah kampus ini terkesan tidak proposional dan urgensinya patut dipertanyakan.

Lalu dengan perjalanan ini apakah Pemerintah Kota Bandar Lampung kini tengah beralih hobi? Apakah arah pembangunan di Kota Bandar Lampung akan fokus pada Tugu dan Gapura ke depan?

Jika memang benar demikian, tidak hanya pembangunan yang ugal-ugalan, tetapi dampak positif yang terjadi pasca sederet pembangunan tugu dan gapura diharapkan dapat menumbuhkan sektor pariwisata dan perekonomian di Kota Bandar Lampung secara ugal-ugalan juga. ***

Sumber: Dihimpun dari Berbagai Sumber.