KELAMPUNG.COM – Sejarah panjang program transmigrasi di Indonesia berawal jauh sebelum masa kemerdekaan, tepatnya pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Transmigrasi yang dilakukan Kolonial Belanda inilah lantas dikenal sebagai “kolonisasi”.
Kala itu, Belanda merintis perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke daerah-daerah lain yang masih jarang penduduknya, termasuk Keresidenan Lampung atau Onder Distrik Lampung.
Tentu bukan tanpa alasan, selain untuk mengatasi kepadatan, program ini juga dimaksudkan untuk membuka wilayah baru yang potensial. Dengan begitu, sumber daya alam dapat dimanfaatkan, dan meningkatkan kesejahteraan. Dari sinilah Lampung kemudian dikenal sebagai salah satu daerah transmigrasi tertua di Indonesia.
Kolonisasi Pertama di Lampung Hanya Sebanyak 155 Keluarga dari Jawa
Arsip Transmigrasi Anri.go.id
Museum Ketransmigrasian mencatat, Tahun 1905 menjadi tonggak sejarah dimulainya kolonisasi resmi oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebanyak 155 kepala keluarga dari daerah Karanganyar, Kebumen, Purworejo, dan Kedu diberangkatkan menuju Gedong Tataan, Keresidenan Lampung.
Mereka dipimpin oleh Asisten Residen Sukabumi H.G. Heyting yang dibantu Asisten Wedana Ronodimedjo dan dua mantri ukur. Para kolonis ini membangun pemukiman pertama yang diberi nama Desa Bagelen —nama yang terinspirasi dan sesuai dengan kampung asal mereka di Jawa Tengah.
Jejak Koloni Indo-Eropa di Lampung
Selain orang Jawa, kelompok Indo-Eropa juga pernah membuka koloni di Lampung. Sekitar tahun 1925, komunitas Indo-Eropa yang termarjinalkan di Hindia Belanda datang ke wilayah Gisting, Tanggamus, di bawah organisasi Indo-Europeesch Verbond (IEV).
Pemimpinnya, Karl Emile August Kloer (1877–1966), memimpin rombongan kecil menyewa lahan selama 75 tahun dari pemerintah kolonial. Mereka mengubah kawasan Gisting menjadi pusat perkebunan kopi, teh, dan karet.
Sejarah transmigrasi di Lampung. Foto: Arsip Transmigrasi Anri.go.id
“Kopi Gisting kami dikenal di seluruh Nusantara sebelum perang,” ujar Kloer dalam wawancara yang dimuat De Indisch Courant pada 10 Juli 1939.
Selain perkebunan, Gisting juga berkembang menjadi daerah pertanian sayur, buah, dan bunga yang hasilnya dikirim hingga ke Palembang. Pada masa itu, jalur penghubung antara Kota Agung–Telukbetung dibangun untuk memperlancar distribusi hasil bumi.
Namun kejayaan koloni Gisting tak bertahan lama. Saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang, banyak warga Indo ditawan dan lahannya hancur. Meski begitu, mereka kembali membangun dari awal. Setiap 10 Juli, mereka memperingati hari berdirinya koloni De Giesting, yang kini menjadi bagian penting dari sejarah Tanggamus.
Gelombang Kolonisasi: Dari Jawa ke Tanah Sumatera
Program kolonisasi berikutnya dilakukan secara bertahap:
-
Gelombang pertama (1905–1911)
-
Gelombang kedua (1911–1939)
-
Gelombang ketiga (pasca kemerdekaan Indonesia)
Ratusan kepala keluarga dari Pulau Jawa menempuh perjalanan berat menuju Lampung. Setelah mendarat di Pelabuhan Panjang, mereka berjalan kaki sejauh 70 kilometer menuju lokasi pemukiman di Gedong Tataan selama tiga hari. Barang-barang bawaan dipikul, sementara di hutan belantara mereka membuka lahan pertanian baru.
Desa-desa hasil kolonisasi itu kini berkembang menjadi kawasan seperti Gedong Tataan (Pesawaran), Gadingrejo (Pringsewu), Metro, Wonosobo (Tanggamus), Batanghari (Lampung Timur), dan Tulangbawang.
Jejak transmigrasi di Lampung. Foto: Arsip Transmigrasi Anri.go.id
Transmigrasi Setelah Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, program ini dilanjutkan dengan nama baru: Transmigrasi. Pemerintah Republik Indonesia melalui berbagai instansi—termasuk Polri, TNI, dan Dinas Sosial—melaksanakan program Trans Tuna Karya, Trans Bencana Alam, hingga Trans Pramuka.
Pada periode 1950–1969, tercatat 53.263 keluarga (221.035 jiwa) dipindahkan ke Lampung. Pada masa Pembangunan Lima Tahun (Pelita), program ini menambah 22.362 kepala keluarga lagi dari Jawa, Madura, dan Bali.
Dampaknya luar biasa. Bila pada tahun 1905 penduduk Lampung hanya sekitar 150 ribu jiwa, kini mencapai 7 juta jiwa, dengan sekitar 60 persen di antaranya berasal dari keturunan Jawa. Mereka membawa serta budaya, bahasa, dan nama-nama desa dari tanah asal, menciptakan perpaduan sosial-budaya yang khas Lampung.
Warisan yang Menyatukan
Museum Ketransmigrasian Provinsi Lampung yang terletak di Jl. Raya A. Yani Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran.
Transmigrasi bukan sekadar kisah perpindahan penduduk, tetapi juga tentang pembauran, kerja keras, dan pencarian kehidupan baru. Dari langkah 155 keluarga pertama di Gedong Tataan tahun 1905 hingga jutaan pendatang di era modern, Lampung menjadi saksi bagaimana program sosial ini membentuk wajah baru daerah dan memperkaya identitas bangsa***
Sumber: Berbagai sumber


